Minggu, 29 November 2015

Dahaga dalam Kepenuhan: Telaah Realitas yang Bercengkraman dengan Nada-nada Kontraversi

Yoseph Belen Keban*



Dahaga adalah sebuah tindakan rasa manusia yang berkaitan dengan minuman, Hal ini benar namun dewasa ini term "dahaga" dimaknai secara luas dalam banyak perspektif. Oleh karena diartikan secara luas maka ketika berdiskursus mengenai dahaga maka manusia yang adalah subyek yang mendengar harus memutar otaknya untuk menerjemahkan maksud pembicaraan seseorang itu. Dahaga tentu selalui berkaitan dengan hewan namun dalam hal ini term mengenai dahaga dialamatkan kepada hewan yang agung yakni manusia. Di sini manusia mendapat tempat utama yang selalu menu kajian dalam mempredikasikan tema ini.
 Dahaga adalah ekspresi haus manus ia dan dahagalah yang mengharuskan manusia mencari sesuatu yang bersifat melegahkan dirinya dari dahaga. Sesuatu yang melegahan itu adalah air. Ia adalah obat penawar dahaga itu sendiri. Berbeda dengan arti secara harafia itu pada zaman modern ini kata dahaga dialamatkan pada manusia dalam berbagai dimensi hidup mulai dari dimensi spiritual  maupun dimensi material. Pada era modern ini, manusia selalu merasa "dahaga" akan segala hal. Kedahagaan manusia akan segala hal itu adalah sebuah sikap kemanusian manusia itu sendiri. Dengan demikian , dahaga manusia adalah manusia. Kekompleksan manusia adalah kurungan dahaga membuat manusia selalu dan harus mencari sumber dahaga tersebut  karena "dahaga" manusia itu kompleks di era kini, maka obat pemenang dahagapun demikian.
Dengan demikian dahaga manusia yang holistik membuatnya selalu merasa kurang penuh, kurang segala  maka rasa dahaga selalu menjadi jeritan ataupun senandung yang terus dinyayikan oleh manusia. Manusia terus saja menjadi pencuri dan dibalik pencarian itu terkadang manusia menjadi pencuri. Pencuri karena pencarian akan dahaga tak dapat ia penuhi. Menyadari akan situasi demikian maka boleh sajalah kita mengatakan bahwa "apapun yang ada padanya, padaku, dan pada kita saat ini merupakan sebuah keadaan yang tak lengkap". Tak penuh, atau dengan kata lain parsial. Sehingga "aq, kita, dan Dia" selalu saja merasa tak cukup dan cukup sehingga membuatku terus merasa dahaga. Rasa demikian terkdang selalu berkaitan dengan hal-hal material. Manusia selalu terperangkap dalam wilayah keinginan sehingga dahaga pun terus ia daraskan di manapun hal itu berarti keinginanlah yang menjadi sumber dahaga. Esensial fundamental dari dahaga adalah keinginan. Semua manusia pasti selalu merasa ingin akan segala hal padahal hal itu sudah ada dihadapan kita. Dahaga akan hal yang sudah ada dihadapanku adalah sikap rakus atau tamak. Ini yang disebut dahaga yang meluap-meluap. Kembali kepersoalan tadi dahaga kembali menjadi pemicu bahkan sebuah aktivitas rasa yang tak akan berhenti selama manusia itu terrus ada dalam wilyah spasio temporal. Dahaga manusia adalah sebuah realitas rasa yang membuat manusia harus berada dalam dekatan dengan itu yang didahagakan. Dalam perjalanan waktuku, manusia selalu merasa dahaga sebab sikap manusia selalu berubah dalam deretan waktu. Hal yang menjadi kontroversi adalah kebanyakan manusia selalu merasa dahaga akan hal materi dan itu bukan hal spiritual.  Itu aneh dan sungguh aneh sebab sebagian dari kebanyakan hanya merasa dahaga akan segalanya, material dan spiritual.

Membaca Pemikiran Thomas Hobbes dan Relevansinya bagi Negara Indonesia


Yoseph Belen Keban
Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang