Yoseph Belen Keban
Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang
Siapa itu Thomas Hobbes?
Thomas Hobbes adalah seorang Filosof asal Inggris yang sangat terkenal. Keterkenalannya tentu saja dalam hal filsafatnya. Ia adalah seorang nominalistik-empiristik . Dalam filsafatnya tentu ia berusaha mencari sebuah metode baru dan hal itu teramatlah penting dari pada mencari sebuah fakta. Hal ini tentu sangatlah berbeda dengan Descartes yang selalu berfokus pada bidang epistemologi. Hobbes adalah seorang pemerhati politik sehingga ia mentelorkan ide-ide briliantnya dalam bidang politik. Awal Hobbes terjun dalam dunia politik adalah ketika ia menilik sistem politik yang tengah diintimidasi oleh keluarga parlemen atas para pendukung Raja Charles 1. Di tengah carut-marutnya sistem perpolitikkan yang ditelorkan ia akhirnya menyingkir ke Prancis dan di sana ia mulai berfilsafat. Hobbe tinggal di sana kurang lebih 10 tahhun lamanya. Di sana tepatnya pada tahun 1942, ia menerbitkan sebuah buku dengan judul De Cive kemudian The Element, dan terakhir adalah Leviathan.
Gagasan manusia menurut Hobbes
Menurut Hobbes, manusia adalah makhluk yang egois. Secara kodrati manusia itu egois. Oleh karena keteregoisan itu maka manusia mulai menemukan konsep kebebasan secara pribadi. Dan dengan kebebasan itu maka manusia menjadi penguasa akan hidupnya. Dalam pemahaman akan manusia Hobbes menyatakan bahwa keegoisan yang secara kodrati melekat pada pribadi manusia itu merupakan akar atau sumber dari konflik. Atau dengan kata lain fondasi konflik adalah keegoisan itu sendiri. Lalu, menjadi pertanyaannya adalah Bagaimana konflik itu dapat diatasi dalam kehidupan bersocietas? Hobbes menganjurkan sebuah solusi yang sangat terkenal dalam filsafatnya adalah "Perang Semua Melawan Semua". Solusi ini tentu membumihanguskan keegoisan yang melekat dalam diri setiap orang sehingga melahirkan konflik di Inggris. Konflik itu terjadi karena masing-masing individu mencari kepentingannya sendiri dan menjadikan orang lain sebagai "musuh". Oleh karena orang lain sebagai musuh atau Homo Homini Lupus maka tidak adanya konsep toleransi dalam kebersamaan sebagai ada bersama. Oleh sebeb itu, menurut Hobbes situasi alamia atau natura adalah situasi perang. Hal ini tentu teradi karena manusia itu memiliki sikap ambisi, berkeinginan dan berkehendak. Selanjutnay Tomas Hobbes mengatakan bahwa ada 3 sumber yang melahirkan konflik atau peperangan. Ketiga sumber itu adalah: Pertama, adanya kompetisi antarindividu untuk memuaskan semua keinginan. Kedua, ketakutan semua terhadap yang lain jika yang lain itu melampaui dia dalam kekuasaan dan Ketiga adalah, adanya tendensi kodrtai semua orang pada kemasyuran melalui superioritas atas yang lain. Ketiga sumber itulah oleh Hobbes melahirkan perang alam atau peperangan dalam state of nature.
Dalam keterpurukan demikian menurut Hobbes peran negara haruslah diutamakan sebab negara adalah institusi tertinggi yang terlahir dari kontrak sosial atau kesepakan untuk mengakhiri konflik. D sini peran hukum menjadi sangat penting oleh sebab itu para penguasa atau pemimpin negara kiranya menaruh takzim pada hukum dan moralitas hidup bernegara agar kesepakan untuk berdamai itu benar-benar terahir. Menurut Hobbes, oarang yang terpilih menjadi pemimpin adalah orang yang terbaik dalam hal moral dan tau akan nilai-nilai hidup bersama atau hukum yang ada. Dengan demikian orang yang terpilih itu hendaknya menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada. Ia berada di atas hukum dan moralitas dan agama harus berada di bawa negara dan pemimpin agama adalah pemimpin negara. Alasannya sebab jika tidak maka akan melahirkan persingdirigungan ideologi dan itu akan melahirkan konflik.
Relevansi pemikiran Hobbes untuk Indonesia
Negara Indonesia yang memiliki sistem demokrasi barangkali tidak pernah luput dari kurungan konflik. konflik itu terlahir karena adanya kepentingan di sana-sini. masing-masing belum menanggalkan keegoisan diri dan hal itu tidak hanya berlau dikalangan rakyat kecil tetapi juga dikalangan para penguasa atau pemimpin. Para pemimpin yang menjadi puncak kekuasaan seakan-akan haus akan kuasa itu sendiri sehingga sepandainya melumpuhkan nilai-nilai hukum dan menafikan moralitas yang ada. Keegoisan itu telah menutup mata para penguasa dan hati nurani itu sendiri sehingga segala tindak-tanduknya terbentur dengan segala kaidah yang ada. Intinya adalah konflik antara kepentingan masih terlihat dalam negara kita. Demokratis tidak terwujud dengan baik, bersih, dan transprant semuanya dilakukan karena keegoisan diri.
Siapa itu Thomas Hobbes?
Thomas Hobbes adalah seorang Filosof asal Inggris yang sangat terkenal. Keterkenalannya tentu saja dalam hal filsafatnya. Ia adalah seorang nominalistik-empiristik . Dalam filsafatnya tentu ia berusaha mencari sebuah metode baru dan hal itu teramatlah penting dari pada mencari sebuah fakta. Hal ini tentu sangatlah berbeda dengan Descartes yang selalu berfokus pada bidang epistemologi. Hobbes adalah seorang pemerhati politik sehingga ia mentelorkan ide-ide briliantnya dalam bidang politik. Awal Hobbes terjun dalam dunia politik adalah ketika ia menilik sistem politik yang tengah diintimidasi oleh keluarga parlemen atas para pendukung Raja Charles 1. Di tengah carut-marutnya sistem perpolitikkan yang ditelorkan ia akhirnya menyingkir ke Prancis dan di sana ia mulai berfilsafat. Hobbe tinggal di sana kurang lebih 10 tahhun lamanya. Di sana tepatnya pada tahun 1942, ia menerbitkan sebuah buku dengan judul De Cive kemudian The Element, dan terakhir adalah Leviathan.
Gagasan manusia menurut Hobbes
Menurut Hobbes, manusia adalah makhluk yang egois. Secara kodrati manusia itu egois. Oleh karena keteregoisan itu maka manusia mulai menemukan konsep kebebasan secara pribadi. Dan dengan kebebasan itu maka manusia menjadi penguasa akan hidupnya. Dalam pemahaman akan manusia Hobbes menyatakan bahwa keegoisan yang secara kodrati melekat pada pribadi manusia itu merupakan akar atau sumber dari konflik. Atau dengan kata lain fondasi konflik adalah keegoisan itu sendiri. Lalu, menjadi pertanyaannya adalah Bagaimana konflik itu dapat diatasi dalam kehidupan bersocietas? Hobbes menganjurkan sebuah solusi yang sangat terkenal dalam filsafatnya adalah "Perang Semua Melawan Semua". Solusi ini tentu membumihanguskan keegoisan yang melekat dalam diri setiap orang sehingga melahirkan konflik di Inggris. Konflik itu terjadi karena masing-masing individu mencari kepentingannya sendiri dan menjadikan orang lain sebagai "musuh". Oleh karena orang lain sebagai musuh atau Homo Homini Lupus maka tidak adanya konsep toleransi dalam kebersamaan sebagai ada bersama. Oleh sebeb itu, menurut Hobbes situasi alamia atau natura adalah situasi perang. Hal ini tentu teradi karena manusia itu memiliki sikap ambisi, berkeinginan dan berkehendak. Selanjutnay Tomas Hobbes mengatakan bahwa ada 3 sumber yang melahirkan konflik atau peperangan. Ketiga sumber itu adalah: Pertama, adanya kompetisi antarindividu untuk memuaskan semua keinginan. Kedua, ketakutan semua terhadap yang lain jika yang lain itu melampaui dia dalam kekuasaan dan Ketiga adalah, adanya tendensi kodrtai semua orang pada kemasyuran melalui superioritas atas yang lain. Ketiga sumber itulah oleh Hobbes melahirkan perang alam atau peperangan dalam state of nature.
Dalam keterpurukan demikian menurut Hobbes peran negara haruslah diutamakan sebab negara adalah institusi tertinggi yang terlahir dari kontrak sosial atau kesepakan untuk mengakhiri konflik. D sini peran hukum menjadi sangat penting oleh sebab itu para penguasa atau pemimpin negara kiranya menaruh takzim pada hukum dan moralitas hidup bernegara agar kesepakan untuk berdamai itu benar-benar terahir. Menurut Hobbes, oarang yang terpilih menjadi pemimpin adalah orang yang terbaik dalam hal moral dan tau akan nilai-nilai hidup bersama atau hukum yang ada. Dengan demikian orang yang terpilih itu hendaknya menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada. Ia berada di atas hukum dan moralitas dan agama harus berada di bawa negara dan pemimpin agama adalah pemimpin negara. Alasannya sebab jika tidak maka akan melahirkan persingdirigungan ideologi dan itu akan melahirkan konflik.
Relevansi pemikiran Hobbes untuk Indonesia
Negara Indonesia yang memiliki sistem demokrasi barangkali tidak pernah luput dari kurungan konflik. konflik itu terlahir karena adanya kepentingan di sana-sini. masing-masing belum menanggalkan keegoisan diri dan hal itu tidak hanya berlau dikalangan rakyat kecil tetapi juga dikalangan para penguasa atau pemimpin. Para pemimpin yang menjadi puncak kekuasaan seakan-akan haus akan kuasa itu sendiri sehingga sepandainya melumpuhkan nilai-nilai hukum dan menafikan moralitas yang ada. Keegoisan itu telah menutup mata para penguasa dan hati nurani itu sendiri sehingga segala tindak-tanduknya terbentur dengan segala kaidah yang ada. Intinya adalah konflik antara kepentingan masih terlihat dalam negara kita. Demokratis tidak terwujud dengan baik, bersih, dan transprant semuanya dilakukan karena keegoisan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar